Singapura Tunda Eksekusi Mati Warga Malaysia yang Terinfeksi Covid-19

Pengadilan Singapura pada Selasa lalu menunda eksekusi mati seorang warga Malaysia yang dihukum karena penyelundupan narkoba, dengan alasan faktor 'akal sehat dan kemanusiaan'. Langkah ini diambil setelah terpidana terkonfirmasi positif terinfeksi virus corona (Covid 19), sehari sebelum jadwal eksekusi hukuman gantungnya berlangsung. Dikutip dari laman Reuters, Kamis (11/11/2021), Hakim tidak memutuskan banding pada menit terakhir yang diajukan atas nama Nagaenthran Dharmalingam (33), dan menyatakan ditundanya eksekusi hingga pemberitahuan lebih lanjut.

"Kita harus menggunakan logika, akal sehat, dan kemanusiaan," kata Hakim Andrew Phang kepada pengadilan, merujuk pada diagnosis Covid 19 dan penundaan eksekusi. Pengadilan Singapura telah menjalankan sidang untuk memutuskan banding terhadap eksekusi seorang laki laki yang disebut tidak waras, seperti yang disampaikan oleh pengacara terpidana itu. Karena dianggap tidak waras, pengacara Dharmalingam pun meminta pengadilan untuk memberikan ampunan kepada kliennya.

Dharmalingam yang diborgol kemudian muncul sebentar di pengadilan. Sebelumnya, ia ditangkap pada April 2009 dan telah divonis mati selama lebih dari satu dekade karena terbukti menyelundupkan 42,72 gram heroin. Kasusnya bahkan telah menarik perhatian internasional, karena Perdana Menteri Malaysia, sekelompok Ahli Perserikatan Bangsa bangsa (PBB) dan miliarder Inggris Richard Branson menjadi tokoh yang berada diantara mereka yang telah meminta Singapura untuk meringankan hukuman matinya.

Sebagai negara kota yang kaya, Singapura memiliki beberapa Undang undang (UU) terberat di dunia terkait obat obatan terlarang. Pengacara Dharmalingam, M Ravi mengatakan bahwa kliennya kini memiliki lebih banyak waktu untuk bersiap saat proses dilanjutkan. "Covid 19 telah memungkinkan dirinya untuk hidup di dunia ini, daripada membunuhnya," kata Ravi.

Ravi dan aktivis lainnya mengatakan kecerdasan Dharmalingam berada pada tingkat yang diakui sebagai kondisi cacat mental. Selain itu, kliennya tersebut juga memiliki gangguan lain yang mempengaruhi pengambilan keputusan serta kontrol impulsnya. Sementara itu, kakak perempuan Dharmalingam, Sarmila Dharmalingam, menyampaikan bahwa penundaan eksekusi akan memberikan harapan bagi keluarga, setidaknya untuk sementara waktu.

"Kami berharap yang terbaik, hari demi hari, kami berjuang dengan rasa takut. Untuk saat ini, kami dapat bersantai sedikit tetapi kami masih belum bisa tenang. Seluruh dunia membahas kasus ini, begitu banyak orang yang menentang eksekusinya," kata Sarmila. Perlu diketahui, menurut data resmi Singapura, sejak 2016 hingga 2019, negara itu telah menggantung 25 orang, mayoritas karena pelanggaran terkait narkoba. Namun tidak ada eksekusi di Singapura pada tahun lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.